Sebar Luaskan Cara Sekolah Menyenangkan

sekolah

Tidak jarang menemukan buah hati-buah hati sekolah yang seperti itu susah untuk meniru aktivitas belajar-mendidik. Mereka seakan menganggap sekolah sebagai daerah yang membosankan.

Dosen Universitas Gajah Mada (UGM), Novi Poespita Candra bersama suami, Muhammad Nur Rizal memandang fenomena hal yang demikian sebagai hal yang perlu dicarikan jalan keluarnya. Apalagi situasi ini juga sempat dialami oleh buah hati pertamanya dikala mengenyam pengajaran tingkat satu Sekolah Dasar (SD) di Indonesia. – st monica school Jakarta

“Dahulu ideal kelas satu (SD), ingin turut latihan biola saja takut sebab (guru) galak. Jikalau libur sekolah bersuka ria, sebab memang malas ke sekolah,” ujar Novi dikala dijumpai di jeda-jeda pemberian pelatihan guru-guru di Pondok Pesantren.

Kemalasan dan keengganan sang buah hati rupanya berubah drastis saat suami membawanya ke Australia untuk kuliah. Apalagi sang buah hati diketahui tidak cakap berdialog bahasa Inggris dan tak mempunyai sahabat sama sekali dikala dipindahkan ke “Negeri Kangguru” hal yang demikian. Perubahan itu seketika terasa selama enam bulan dimana sang buah hati mulai menjadi siswa di sekolah dasar Australia.

Novi yang kala itu masih berada di Indonesia senantiasa mendengar cerita bahwa buah hati pertamanya acap kelihatan senang tiap sekolah. Seakan ada rasa motivasi yang tinggi sehingga tak pernah kelihatan lelah ataupun stress seperti sebelumnya. Keadaan-kondisi ini terang membikin Novi penasaran hingga kesudahannya ia tiba di Australia pada 2010.

“Terus sekitar enam bulan lebih berikutnya, aku menyusul ke Australia sesudah mendapatkan beasiswa di 2010. Aku bawa dua buah hati aku yang lain ke Melbourne,” ujar perempuan berusia 44 tahun ini.

Di masa-masa mengenyam kuliah, Novi kebetulan menerima tugas riset yang tidak jauh dari dunia buah hati-buah hati. Dia menerima tugas meneliti seputar pengajaran dan kesehatan mental buah hati. Sebab tugas ini, ia malah sering kali mendatangi sekolah-sekolah yang berada di Australia.

Sebab rasa penasaran, Novi mulai mencari tahu alasan kenapa buah hati-buah hati Australia bisa merasakan aktivitas di sekolah dengan seperti itu senang. Tak cuma berintelektual tinggi, sekolah di sana juga sukses menumbuhkan karakter bermutu.

Rasa mau tahunya ini dimulai dengan mengumpulkan data dari siswa, guru dan para ayah dan ibu di sejumlah sekolah. “Aku tanya ke mereka ‘apa yang membikin mereka happy ke sekolah?’. Nah, dari anggapan yang dikemukakan mereka inilah dihasilkan modal dasar munculnya Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM),” tegasnya.

Berdasarkan Novi, kunci sekolah di Australia pada dasarnya berupaya memanusiakan buah hati dengan melibatkan mereka sebaik mungkin. Kecuali itu, menjadikan ekosistem yang bermutu sehingga bisa menumbuhkan karakter dari lingkungan pembelajarannya. Tidak lupa juga terkoneksi dengan pilar-pilar lain, seperti keluarga, lingkungan dan sebagainya.

“Intinya seharusnya membikin sekolah menjadi daerah menyenangkan. Sepatutnya merubah ekosistem di sekolah,” jelasnya.

Sesudah mengumpulkan data dengan mencari pelbagai anggapan, Novi memandang bagaimana praktik pendidikan di Australia. Pesan dan hasil pengamatan ini kemudian ditulis di media sosial (sosmed) yang seketika menerima respons positif dari warganet. Tidak lama sesudah itu, dia bersama suami mulai mencoba meluncurkan GSM walaupun baru berupa artikel dalam helaian kertas di 2014.

“Sebelumnya kami memang menulis buku sekitaran 2014 hingga 2015 seputar praktik mendidik yang bagus di Australia. Kemudian kita seriusi, pulang dari sana di 2016 seketika ke sekolah-sekolah,” tambah ia. – saint monica school Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *